x

#htmlcaption1 aj43 Management aj43 Management aj43 Management aj43 Management aj43 Management #htmlcaption1 aj43 Management #htmlcaption2 aj43 Management #htmlcaption1
Selamat Datang di Website AJ43 Management "Ahmad Jaelani" 0899-0019-009 / 0822-9899-2934 Salam Hangat

Jumat, 15 Januari 2016

METODE HARGA POKOK PESANAN

BAB II
METODE HARGA POKOK PESANAN

SUMBER : MK AKUNTANSI BIAYA 1 / TAVITRI RANGKUTI, SE. MM


Pada perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Tujuan produksi perusahaan untuk melayani pesanan pembeli yang bentuknya tergantung pada spesifikasi pemesan, sehingga sifat produksinya terputus-putus dan setiap pesanan dapat dipisahkan identitasnya secara jelas.
  2. Biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan dengan tujuan dapat dihitung harga pokok pesanan dengan relatif teliti dan adil.
  3. Jumlah total harga pokok untuk pesanan tertentu dihitung pada saat pesanan yang bersangkutan selesai, dengan menjumlahkan semua biaya yang dibebankan kepada pesanan yang bersangkuta.
  4. Pesanan yang sudah selesai dimasukkan ke gudang produk selesai dan biasanya segera akan diserahkan (dijual) kepada pemesan sesuai dengan saat/tanggal pesanan harus diserahkan.


A.     ALIRAN KEGIATAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN ALIRAN HARGA POKOK PRODUK

Menunjukkan aliran biaya produksi dalam rangka kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang selanjutnya dijual, oleh karena itu aliran harga pokok produk akan dipengaruhi atau tergantung aliran kegiatan (flow of activity)

A.     PROSEDUR AKUNTANSI BIAYA PADA METODE HARGA POKOK PESANAN
Prosedur akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan meliputi organisasi formulir, catatan-catatan dan laporan-laporan yang terkoordinasi dalam rangka melaksanakan kegiatan untuk melayani pesanan dan menyajukan informasi biaya bagi menejemen.

1.    Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies
Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies meliputi prosedur pembelian sampai dengan pemakaian bahan dan supplies did ala pabrik.

a.    Pembelian bahan dan supplies
Pembelian bahan dan supplies dimulai dari pembuatan pesanan pembelian (purchases order) oleh Bagian Pembelian dan mengirimkannya kepada supplier.

Jurnal pembelian bahan dan supplies secara kredit sebagai berikut :

PERSEDIAAN BAHAN BAKU
PERSEDIAAN BAHAN PENOLONG
PERSEDIAAN SUPLIES PABRIK

Rp

xxxxx
xxxxx
xxxxx



     UTANG DAGANG



Rp
xxxxx
Apabila pembelian bahan dan supplies secara tunai rekening buku besar yang dikredit adalah kas.

b.    Pengembalian (return) bahan dan supplies yang dibeli kepada supplier
Apabila bahan dan supplies yang dibeli tidak sesuai dengan yang dipesan, maka perusahaan dapat mengembalikan kepada supplier dengan dibuatkan dokumen yang disebut nota debit (debit memorandum) atau laporan pengiriman pengembalian pembelian.

Jurnal pengembalian bahan dan supplies kepada supplier adalah sebagai berikut :

UTANG DAGANG

Rp

xxxxx



     PERSEDIAAN BAHAN BAKU
     PERSEDIAAN BAHAN PENOLONG
     PERSEDIAAN SUPLIES PABRIK



Rp
xxxxx
xxxxx
xxxxx

Apabila harga bahan dan supplies yang dikembalikan sudah dibayar akan didebit kas atau piutang dagang.

c.     Potongan pembelian (tunai) atas pembelian bahan dan supplies
Seringkali dalam pembelian bahan dan supplies diperoleh potongan pembelian, apabila praktis potongan tunai mengurangi harga perolehan bahan dan supplies, oleh karena itu dari bukti kas ke keluar akan dibuat jurnal dan dimasukkan ke dalam kartu persediaan.

Jurnalnya sebagai berikut :

UTANG DAGANG

Rp

xxxxx



     PERSEDIAAN BAHAN BAKU
     PERSEDIAAN BAHAN PENOLONG
     PERSEDIAAN SUPLIES PABRIK
     KAS



Rp
xxxxx
xxxxx
xxxxx
xxxxx

Jurnal potongan pembelian apabila diperlakukan sebagai penghasilan lain-lain sebagai berikut :

UTANG DAGANG

Rp

xxxxx



     PENGHASILAN LAIN-LAIN
     KAS



Rp
xxxxx
xxxxx

d.    Pemakaian bahan dan supplies
Atas dasar perintah produksi, Departemen Produksi yang memerlukan mengisi dokumen bon permintaan bahan kepada seksi gudang bahan untuk meminta bahan baku, bahan penolong, supplies pabrik dan barang lainnya yang diperlukan untuk mengolah produk yang dipesan pembeli.

Jurnal pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut :

BARANG DALAM PROSES - BIAYA BAHAN BAKU

Rp

xxxxx



     PERSEDIAAN BAHAN BAKU
    


Rp
xxxxx


Jurnal pemakaian bahan penolong sebagai berikut :

BIAYA OVERHEAD PABRIK SESUNGGUHNYA

Rp

xxxxx



     PERSEDIAAN BAHAN PENOLONG
    


Rp
xxxxx


Jurnal pemakaian supplies pabrik sebagai berikut :

BIAYA OVERHEAD PABRIK SESUNGGUHNYA

Rp

xxxxx



     PERSEDIAAN SUPLIES PABRIK
    


Rp
xxxxx


e.    Pengembalian bahan baku dari pabruk ke gudang bahan
Dapat pula timbul pengembalian bahan bakudari pabrik ke gudang bahan.

Jurnal yang dibuat sebagai berikut :

PERSEDIAAN BAHAN BAKU

Rp

xxxxx



     BARANG DALAM PROSES – BIAYA BAHAN BAKU
    


Rp
xxxxx


2.    Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja
Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja meliputi prosedur terjadinya gaji dan upah, pembayaran gaji dan upah, dan distribusi gaji dan upah untuk semua karyawan perusahaan baik produksi maupun non produksi, baik karyawan yang gajinya tetap per bulan maupun yang ditentukan oleh jam kerjanya.

a.    Penentuan besarnya gaji dan upah
Cara penentuan besarnya gaji dan upah karyawan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :


1)    Gaji dan upah karyawan besarnya tergantung pada lamanya waktu kerja (jam kerja) atau jumlah produk yang dihasilkan.
2)    Gaji dan upah tetap per bulan

Jurnal untuk mencatat terjadinya gaji dan upah, baik untuk karyawan tetap maupun karyawan berdasarkan lamanya waktu kerja, adalah sebagai berikut :

BIAYA GAJI DAN UPAH

Rp

xxxxx



     UTANG PAJAK PENGHASILAN (PPh)
     UTANG DANA PENSIUN
     UTANG ASURANSI TENAGA KERJA
     UTANG ASURANSI HARI TUA
     PIUTANG KARYAWAN
     UTANG GAJI DAN UPAH
    


Rp
xxxxx
xxxxx
xxxxx
xxxxx
xxxxx
xxxxx


b.    Pembayaran atas gaji dan upah
Jurnal pembayaran gaji dan upah sebagai berikut :

UTANG GAJI DAN UPAH

Rp

xxxxx



     K A S
          


Rp
xxxxx

c.     Distribusi biaya gaji dan upah
Jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut :

BARANG DALAM PROSES – BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG
BIAYA OVERHEAD PABRIK SESUNGGUHNYA
BIAYA PEMASARAN
BIAYA ADMINISTRASI DAN UMUM

Rp

xxxxx
xxxxx
xxxxx
xxxxx



     BIAYA GAJI DAN UPAH
          


Rp
xxxxx

d.    Beban atas gaji dan upah yang ditanggung perusahaan
Beban yang berhubungan dengan karyawan pabrik diperlukan sebagai elemen overhead pabrik sesungguhnya karena sifat biaya ini tidak dapat diidentifikasikan pada produk tertentu.

Jurnal transaksi tersebut adalah sebagai berikut :

BIAYA OVERHEAD SESUNGGUHNYA
BIAYA PEMASARAN
BIAYA ADMINISTRASI DAN UMUM

Rp

xxxxx
xxxxx
xxxxx



     UTANG PAJAK PENGHASILAN
     UTANG DANA PENSIUN
     UTANG ASURANSI TENAGA KERJA
     UTANG ASURANSI HARI TUA
          


Rp
xxxxx
xxxxx
xxxxx
xxxxx


e.   Penyetoran potongan dan beban atas gaji dan upah kepada badan-badan yang berhak
Dokumen bukti kas ke luar digunakan untuk menyetorkan potongan dan beban atas gaji dan upah pada badan-badan yang berhak, jurnal yang dibuat sebagai berikut :

UTANG PAJAK PENGHASILAN
UTANG DANA PENSIUN
UTANG ASURANSI TENAGA KERJA
UTANG ASURANSI HARI TUA

Rp

xxxxx
xxxxx
xxxxx
xxxxx



     K A S     
    


Rp
xxxxx


3.    Prosedur akuntansi biaya overhead pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling komplek, untuk keadilan dan ketelitian pembebanan harus digunakan tariff biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka. Alasan pemakaian tariff pembebanan adalah sebagai berikut :

a.     Adanya biaya overhead yang timbul setelah aktivitas berlalu, misalnya reparasi aktiva tetap.
b.     Adanya biaya yang baru dapat dihitung pada akhir periode, penyusutan, biaya listrik.
c.     Adanya biaya yang terjadi hanya pada interval waktu tertentu , biaya angsuran.

Biaya overhead yang sesungguhnya baru dapat dihitung pada akhir periode, padahal harga pokok pesanan harus dihitung saat pesanan selesai tanpa menunggu akhir periode, jadi untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada pesanan harus digunakan tarif yang ditentukan di muka.

Rumus perhitungan tariff biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut :

T

=

B



K



T
B
K

=
=
=

Tarif biaya overhead pabrik
Budget biaya overhead pabrik periode tertentu
Budget kapasitas pembebanan untuk periode yang bersangkutan

4.    Prosedur akuntansi produk selesai dan produk dalam proses akhir periode
Pada metode harga pokok pesanan setiap ada pesanan yang selesai dipindahkan dari departemen produksi ke seksi gudang produk selesai dan harus dihitung harga pokoknya.

Jurmal adalah sebagai berikut :

PERSEDIAAN PRODUK SELESAI

Rp

xxxxx



     BARANG DALAM PROSES - BIAYA BAHAN BAKU
     BARANG DALAM PROSES - BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG
     BARANG DALAM PROSES – BIAYA OVERHEAD PABRIK
    


Rp
xxxxx
xxxxx
xxxxx


Sedangkan apabila pada akhir periode masih ada pesanan dalam proses, maka kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan fungsinya berubah dari rekening pembantu barang dalam proses menjadi rekening pembantu persediaan produk dalam proses.

Jurnal adalah sebagai berikut :

PERSEDIAAN PRODUK DALAM PROSES

Rp

xxxxx



     BARANG DALAM PROSES - BIAYA BAHAN BAKU
     BARANG DALAM PROSES - BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG
     BARANG DALAM PROSES – BIAYA OVERHEAD PABRIK
    


Rp
xxxxx
xxxxx
xxxxx


5.     Prosedur akuntansi penjualan dan penyerahan produk kepada pemesan
Dari seksi gudang produk selesai pesanan dikirimkan kepada pemesan, dan dibuatkan dokumen faktur penjualan, jurnal yang dibuat sebagai berikut :

PIUTANG DAGANG
K A S

Rp

xxxxx
xxxxx



     BARANG DALAM PROSES - BIAYA BAHAN BAKU
    


Rp
xxxxx


Jurnal yang dibuat untuk mencatat harga pokok penjualan sebagai berikut :

PIUTANG DAGANG

Rp

xxxxx



     PERSEDIAAN PRODUK SELESAI
    


Rp
xxxxx


  
Contoh pengetrapan metode harga pokok pesanan

PT IMMI berproduksi atas dasar pesanan, pada tanggal 1 Januari 2010 Neraca perusahaan menunjukkan data sebagai berikut :


Persediaan produk dalam proses adalah pesanan nomor 75 sejumlah 2.000 buah dengan perincian biaya :

Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja langsung
Biaya overhead pabrik

Rp
Rp
Rp

10.000,-
20.000,-
10.000,-
Jumlah
Rp
40.000,-

Persediaan produk selesai adalah pesanan nomor 703 yang belum diserahkan kepada pemesan sebanyak 500 buah produk. Untuk yahun 2010perusahaan menetapkan besarnya budget biaya overhead pabrik dan kapasitas pembebanan berdasar jam kerja langsung per bulan sebagai berikut :

TARIF BIAYA OVERHEAD PABRIK

=

BUDGET BIAYA OVERHEAD PABRIK



BUDGET JAM KERJA LANGSUNG



=

Rp 20.000,-

= Rp 40,- per jam


5.000 jam

  
Transaksi yang terjadi dalam bulan Januari 2010 sebagai berikut :
a.     Diterima pesanan nomor 001 sebanyak 1.000 buah produk dengan harga jual Rp 400.000,- dan pesanan nomor 002 sebanyak 800 buah produk dengan harga jual Rp 500.000,- Pemesan nomor 001 telah membayar uang muka kepada perusahaan Rp 150.000,-

b.     Dibeli bahan dan supplies dengan kredit :

Bahan baku – A
Bahan baku – B

Rp
Rp

100.000,-
150.000,-





Rp
250.000,-

Bahan baku – D
Bahan baku – E

Rp
Rp

20.000,-
10.000,-





Rp
30.000,-

Suplies dan suku cadang - X
Suplies dan suku cadang - Y

Rp
Rp

15.000,-
5.000,-





Rp
20.000,-
Jumlah


Rp
300.000,-

c.     Pesanan nomor 703 diserahkan kepada pemesan dengan harga jual Rp 350.000,- dibayar tunai oleh pemesan.

d.     Pemakaian bahan baku dan penolong :

Jumlah


Bahan Baku A


Bahan Baku B


Jumlah

705
001
002

Rp
Rp
Rp

30.000,-
35.000,-
15.000,-

Rp
Rp
Rp

40.000,-
50.000,-
30.000,-

Rp
Rp
Rp

70.000,-
85.000,-
45.000,-
Jumlah
Rp
80.000,-
Rp
120.000,-
Rp
200.000,-

e.     Biaya gaji dan upah yang terjadi dan dibayarkan kepada karyawan sebagai berikut :
Karyawan pabrik :

Langsung

:

Pesanan

Jumlah Jam


Jumlah Upah





705
001
002

1.500
2.000
1.400

Rp
Rp
Rp

75.000,-
110.000,-
70.000,-





4.900


Rp
255.000,-
Tidak langsung
:

Rp
45.000,-
Jumlah tenaga kerja pabrik
Rp
300.000,-
Karyawan pemasaran
Karyawan administrasi dan umum
Rp
Rp
40.000,-
60.000,-
Gaji dan upah
Rp
400.000,-


Potongan atas gaji dan upah :
Pajak penghasilan    Rp 20.000,-
Dana pensiun          Rp 10.000,-

Rp

30.000,-
Gaji dan upah
Rp
370.000,-

f.      Sumbangan pajak penghasilan dan dana pensiun yang ditanggung perusahaan, dialokasikan kepada setiap fungsi berdasarkan jumlah gaji dan upah, besarnya sebagai berikut :

Pajak penghasilan
Dana pensiun

Rp
Rp

10.000,-
15.000,-
Jumlah
Rp
25.000,-

g.     Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik yang dilakukan sendiri oleh karyawan perusahaan menggunakan supplies dan suku cadang – X Rp 15.000,- supplies dan suku cadang – Y Rp 2.500,-  Reparasi dan pemeliharaan yang dibeli dari jasa pihak luar telah dibayar kas, untuk pemasaran Rp 4.000,- untuk administrasi dan umum Rp 6.000,-

h.     Biaya listrik dan air telah dibayar kas sebesar Rp 20.000,- dengan perincian : pabrik Rp 15.000,- pemasaran Rp 2.000,- dan administrasi umum Rp 3.000,-

i.      Pesanan 705 dan 001 telah selesai, dan pesanan 705 telah dijual dengan harga jual Rp 400.000,- dengan kredit.

j.      Dibayar utang dagang atas pembelian bahan Rp 200.000,-

k.     Biaya penyusutan dan asuransi yang diperhitungkan untuk bulan Januari sebagai berikut :

PENYUSUTAN


PABRIK


PEMASARAN


ADMINISTRASI & UMUM


JUMLAH

BANGUNAN
MESIN
PERALATAN

Rp
Rp
Rp

15.000,-
50.000,-
9.000,-

Rp
Rp
Rp

7.500,-
0,-
2.000,-

Rp
Rp
Rp

12.500,-
0,-
4.000,-

Rp
Rp
Rp

35.000,-
50.000,-
15.000,-
JUMLAH
Rp
74.000,-
Rp
9.500,-
Rp
16.500,-
Rp
100.000,-
ASURANSI
Rp
3.000,-
Rp
1.000,-
Rp
1.000,-
Rp
5.000,-

l.      Biaya lain-lain yang masih terutang pada akhir bulan perinciannya sebagai berikut :

Biaya overhead pabrik
Biaya pemasaran
Biaya administrasi dan umum

Rp
Rp
Rp

5.000,-
3.000,-
2.000,-
Jumlah
Rp
10.000,-

Dari transaksi PT IMMI tersebut, selanjutnya akan dibahas :

1.     Jurnal yang diperlukan
2.     Laporan laba rugi dan neraca
3.     Aliran biaya dan penghasilan
4.     Buku besar dan buku pembantu biaya dan persediaan
Posting Komentar

Follow by Email